Kamis, 15 Desember 2011

Fakultas yang terasingkan



Tepatnya satu setengah tahun saya berada di tempat ini terhitung sejak Agustus 2010. Tempat yang secara tidak langsung telah membentuk karakter diri saya sehingga saya dapat berdiri tegak disini. Tempat ini tidak hanya mengasah saya sebagai individu yang berkarakter tetapi juga sebagai manusia yang dapat memanusiakan manusia, menghargai sesama dan bekerja bersama-sama. Tidak ada yang dapat menggantikan tempat ini: Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Brawijaya (UB).

Kisah dari tempat ini bermula ketika saya mengikuti seleksi tes perguruan tinggi dan saya memilih Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya sebagai pilihan pertama saya. Setelah saya gagal menempuh tes di FISIP Universitas Airlangga, maka saya memantapkan diri untuk memasuki FIB UB. Tanpa paksaan dari siapapun karena pilihan ini benar-benar keinginan saya sendiri.

Begitu mengikuti upacara pertama kali dan mencari dimana kampus saya, saya sempat tidak percaya begitu mendapati kampus yang bertuliskan Fakultas Ilmu Budaya yang  bangunannya lebih mirip seperti LBB daripada sebuah Fakultas. Akan tetapi, di hari-hari berikutnya saya kemudian percaya bahwa memang inilah fakultas saya, yang akan saya tempati selama kurang lebih 4 tahun ke depan. Tidak heran jika orang tua, teman-teman, dan saudara yang sempat melihat fakultas saya selalu mengeluh dengan nada tidak enak mengatai kampus ini. “Ini fakultasmu? Kasihan banget sih.. jelek banget, nggak kaya fakultas!”. Begitu kurang lebih komentar mereka yang melihat fakultas saya, awalnya saya juga mempunyai pemikiran yang sama dengan mereka dan selama setahun merasa ingin pindah ke Fakultas lain dengan mengikuti tes perguruan tinggi lagi tahun depannya. Keinginan ini bertahan sangat bulat hingga saya bertemu dengan orang-orang luar biasa di dalamnya.

Saya mulai bertemu dengan dosen-dosen yang selalu meyakinkan kita di kelas bahwa tidak peduli kampus kita sejelek apa akan tetapi kualitas manusia-manusia di dalamnya tidak bisa diremehkan. Saya pun bertemu dengan senior yang menceritakan banyaknya mahasiswa di kampus ini yang meraih pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Tiba-tiba pandangan saya terhadap fakultas ini sedikit demi sedikit berubah. Anggapan orang-orang tentang jeleknya fakultas ini tiba-tiba tidak membuat saya gampang terpengaruh. Bahkan saya berani membalas celaan mereka dengan mengatakan bahwa bangunan fakultas saya boleh jelek tetapi kami adalah cikal bakal orang-orang sukses yang luar biasa. Saya merasakan sesuatu yang hebat di fakultas ini dan saya ingin masuk di dalam lingkungan hebat ini.

Saya pun bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya. Saya dibesarkan di kelas K dimana di dalamnya ternyata berisi orang-orang gila dan unik yang jarang saya temui di luar. Karakter teman-teman saya beragam, mulai dari yang pintar dan rajin, lucu dan menyenangkan, galak dan pendiam, berani dan percaya diri, dan banyak lagi. Kami pun mulai menghabiskan waktu bersama-sama karena merasa senasib dan seperjuangan. Mengerjakan tugas bersama di Green Grass tercinta, bercanda sesukanya di Green Grass juga, menghabiskan waktu dari pagi hingga sore bahkan malam di Fakultas, dan banyak hal tak terlupakan lainnya yang saya rasakan bersama teman-teman di Fakultas Ilmu Budaya. Ini semua membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di tempat yang tepat, tidak seperti pendapat beberapa orang luar tentang kampus ini.

Setelah satu tahun berlalu, niat saya untuk meninggalkan Fakultas ini pupus sudah. Saya setuju bahwa dengan berada di Fakultas ini, kami bisa menjadi orang yang besar di Fakultas yang kecil. Karena jika kita memilih di Fakultas yang telah besar dan terkenal, maka kita memilih menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja dan tidak menonjol. Saya berpikir, lebih baik saya berada di Fakultas yang kecil tapi saya bisa menjadi orang besar karena dengan Fakultas yang kecil saya bisa menjadi pribadi yang berkualitas dan menularkan potensi yang saya punya ke mahasiswa - mahasiswa yang lainnya, sedangkan jika saya  hanyalah mahasiswa biasa di Fakultas yang besar, apalah arti suara serta tindakan saya? Tidak akan banyak berpengaruh pada Fakultas yang besar itu dan akan susah bagi saya untuk meningkatkan kualitas pribadi saya di Fakultas besar yang menampung banyak mahasiswa. Hal ini kemudian mulai terbukti di tahun-tahun berikutnya. Saya merasa bangga dan senang dapat menjadi mahasiswa yang besar di Fakultas yang kecil ini.

Di tahun-tahun berikutnya, saya mulai mencicipi banyak sekali pengalaman yang tidak akan saya lupakan dan sangat berguna bagi hidup saya. Saya dan teman-teman senasib seperjuangan tadi mulai sadar atas pentingnya berorganisasi dalam Fakultas ini. Atas dasar semangat kami yang luar biasa, kami ingin merubah Fakultas ini. Tawa, canda, duka, suka, tangisan, seringkali kita rasakan bersama-sama. Segala hal tidak enak di Fakultas Ilmu Budaya ini seperti rumitnya proses peminjaman tempat dan alat, dan lain-lain. Disamping itu, lebih banyak hal-hal menyenangkan yang kami alami bersama di Fakultas ini seperti berorganisasi dalam suatu kepanitiaan, rapat hingga malam hari di Fakultas Ilmu Budaya, makan bersama-sama hingga tidur besama-sama di Gor Pertamina karena menjaga panggung dan sound system untuk acara Student Day pun kami telah rasakan bersama-sama. Hal-hal yang berbau soft skill seperti manajemen waktu, public speaking, kemampuan berkomunikasi, dan lain-lain pun saya dapatkan selama berorganisasi dan berada di Fakultas ini. Fakultas ini memang tidak boleh diremehkan, saya merasakan banyak hal luar biasa di dalamnya yang akan sangat menunjang masa depan saya nanti.

Setelah satu setengah tahun berada di Fakultas ini, pandangan saya pun secara total berubah. Disaat ditanya orang saya kuliah dimana, dengan bangga saya mengatakan, Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Saya dapat belajar akademis dan organisasi disini, di Fakultas Ilmu Budaya. Inilah yang saya rasakan, dapat merasakan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya dan semakin lama semakin banyak orang yang mengenal kampus saya, bukan terkenal sebagai Fakultas LBB tapi sebagai Fakultas yang berisi orang-orang hebat di dalamnya.

Tidak ada yang meremehkan kampus ini lagi begitu melihat orang- orang hebat di dalamnya. Banyak yang mulai memuji Fakultas ini atas prestasi – prestasi hebat yang berhasil didapatkan, seperti juara 3 lomba debat se-Jatim mengenai Tipikor, dan juga juara- juara lainnya saat mengikuti Olimpiade Brawijaya.Mulai banyak pihak yang memberi selamat pada Fakultas kami. Biar kata bangunan kami masih seperti LBB, tapi kami berhasil membuktikan bahwa kualitas kami jauh dari yang orang-orang bayangkan.

Akan tetapi, sejauh ini banyak komentar – komentar miring mengenai Fakultas ini. Mulai tentang banyaknya mahasiswa akan tetapi tidak didukung oleh bangunan dan fasilitas yang memadai. Pembangunan gedung yang telah menjadi rencana sejak l`ma menjadi harapan baru kami. Karena kembali lagi, Fakultas kami adalah Fakultas yang paling jelek dibandingkan dengan Fakultas lainnya yang memiliki gedung yang menjulang tinggi dan megah. Fakultas kami hanyalah Fakultas kecil yang tidak terlalu menjulang tinggi meskipun Fakultas baru dan tidak seperti LBB lagi. Akan tetapi, tidak ada rasa minder sedikitpun yang saya rasakan ketika melihat kampus saya dibandingkan dengan kampus lainnya. Mungkin memang masih banyak yang meremehkan kualitas Fakultas Ilmu Budaya tetapi tidak sedikit juga yang mulai mengakui kualitas kampus ini serta banyaknya potensi dari mahasiswanya. Pasti akan sangat membanggakan apabila pembangunan ini dapat dengan segera cepat untuk diselesaikan. Dan kami berharap pembangunan tidak akan berhenti hinnga selesai.Kelas-kelas yang meskipun jelek tetapi membuat kami nyaman karena teman-teman yang luar biasa pasti dapat lebih dikembangkan lagi untuk kedepannya. Perjuangan bersama-sama di Fakultas Ilmu Budaya akan terus diingat hingga tua dan susah untuk dilupakan.

Jadi, apa saja yang saya rasakan di FIB? Susah untuk merangkainya dengan kata-kata yang pas meskipun saya telah menghabiskan banyak kata- kata ini. Yang saya rasakan jauh lebih indah dari apa yang tertulis disini. Mulai dari rasa bangga menjadi salah satu mahasiswa disini, merasa kangen jika sudah lama libur saat liburan semester, sedih jika tidak menemukan teman-teman di kampus, berorganisasi yang menyenangkan, dan rasa cinta yang tinggi terhadap Fakultas Ilmu Budaya. Setiap detik  ingatan yang saya habiskan bersama teman-teman disini akan terekam dengan baik di otak saya yang suatu waktu bisa diputar sesukanya. Seseorang harus mengabadikan kisah klasik luar biasa ini dalam sebuah buku supaya  tetap terdengar sampai kapanpun. Saya cinta Fakultas Ilmu Budaya, salam budaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar