Tepatnya satu setengah tahun saya berada di tempat ini terhitung sejak Agustus 2010. Tempat yang secara tidak langsung telah membentuk karakter diri saya sehingga saya dapat berdiri tegak disini. Tempat ini tidak hanya mengasah saya sebagai individu yang berkarakter tetapi juga sebagai manusia yang dapat memanusiakan manusia, menghargai sesama dan bekerja bersama-sama. Tidak ada yang dapat menggantikan tempat ini: Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Brawijaya (UB).
Kisah dari tempat ini bermula ketika saya mengikuti seleksi tes
perguruan tinggi dan saya memilih Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Brawijaya sebagai pilihan pertama saya. Setelah saya gagal menempuh
tes di FISIP Universitas Airlangga, maka saya memantapkan diri untuk memasuki
FIB UB. Tanpa paksaan dari siapapun karena pilihan ini benar-benar keinginan
saya sendiri.
Begitu
mengikuti upacara pertama kali dan mencari dimana kampus saya, saya sempat
tidak percaya begitu mendapati kampus yang bertuliskan Fakultas Ilmu Budaya yang
bangunannya lebih mirip seperti LBB
daripada sebuah Fakultas. Akan tetapi, di hari-hari berikutnya saya kemudian percaya
bahwa memang inilah fakultas saya, yang akan saya tempati selama kurang lebih 4
tahun ke depan. Tidak heran jika orang tua, teman-teman, dan saudara yang
sempat melihat fakultas saya selalu mengeluh dengan nada tidak enak mengatai
kampus ini. “Ini fakultasmu? Kasihan banget
sih.. jelek banget, nggak kaya fakultas!”. Begitu kurang lebih komentar
mereka yang melihat fakultas saya, awalnya saya juga mempunyai pemikiran yang
sama dengan mereka dan selama setahun merasa ingin pindah ke Fakultas lain
dengan mengikuti tes perguruan tinggi lagi tahun depannya. Keinginan ini
bertahan sangat bulat hingga saya bertemu dengan orang-orang luar biasa di
dalamnya.
Saya mulai bertemu dengan dosen-dosen yang selalu meyakinkan
kita di kelas bahwa tidak peduli kampus kita sejelek apa akan tetapi kualitas
manusia-manusia di dalamnya tidak bisa diremehkan. Saya pun bertemu dengan
senior yang menceritakan banyaknya mahasiswa di kampus ini yang meraih
pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Tiba-tiba pandangan saya terhadap fakultas
ini sedikit demi sedikit berubah. Anggapan orang-orang tentang jeleknya
fakultas ini tiba-tiba tidak membuat saya gampang terpengaruh. Bahkan saya
berani membalas celaan mereka dengan mengatakan bahwa bangunan fakultas saya
boleh jelek tetapi kami adalah cikal bakal orang-orang sukses yang luar biasa.
Saya merasakan sesuatu yang hebat di fakultas ini dan saya ingin masuk di dalam
lingkungan hebat ini.
Saya
pun bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya. Saya dibesarkan di kelas K dimana
di dalamnya ternyata berisi orang-orang gila dan unik yang jarang saya temui
di luar. Karakter teman-teman saya beragam, mulai dari yang pintar dan rajin,
lucu dan menyenangkan, galak dan pendiam, berani dan percaya diri, dan banyak
lagi. Kami pun mulai menghabiskan waktu bersama-sama karena merasa senasib dan
seperjuangan. Mengerjakan tugas bersama di Green
Grass tercinta, bercanda sesukanya di Green
Grass juga, menghabiskan waktu dari pagi hingga sore bahkan malam di
Fakultas, dan banyak hal tak terlupakan lainnya yang saya rasakan bersama
teman-teman di Fakultas Ilmu Budaya. Ini semua membuat saya semakin yakin bahwa
saya berada di tempat yang tepat, tidak seperti pendapat beberapa orang luar
tentang kampus ini.
Setelah
satu tahun berlalu, niat saya untuk meninggalkan Fakultas ini pupus sudah. Saya
setuju bahwa dengan berada di Fakultas ini, kami bisa menjadi orang yang besar
di Fakultas yang kecil. Karena jika kita memilih di Fakultas yang telah besar
dan terkenal, maka kita memilih menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja dan tidak
menonjol. Saya berpikir, lebih baik saya berada di Fakultas yang kecil tapi
saya bisa menjadi orang besar karena dengan Fakultas yang kecil saya bisa
menjadi pribadi yang berkualitas dan menularkan potensi yang saya punya ke
mahasiswa - mahasiswa yang lainnya, sedangkan jika saya hanyalah
mahasiswa biasa di Fakultas yang besar, apalah arti suara serta tindakan saya?
Tidak akan banyak berpengaruh pada Fakultas yang besar itu dan akan susah bagi
saya untuk meningkatkan kualitas pribadi saya di Fakultas besar yang menampung
banyak mahasiswa. Hal ini kemudian mulai terbukti di tahun-tahun berikutnya.
Saya merasa bangga dan senang dapat menjadi mahasiswa yang besar di Fakultas
yang kecil ini.
Di
tahun-tahun berikutnya, saya mulai mencicipi banyak sekali pengalaman yang
tidak akan saya lupakan dan sangat berguna bagi hidup saya. Saya dan
teman-teman senasib seperjuangan tadi mulai sadar atas pentingnya berorganisasi
dalam Fakultas ini. Atas dasar semangat kami yang luar biasa, kami ingin
merubah Fakultas ini. Tawa, canda, duka, suka, tangisan, seringkali kita
rasakan bersama-sama. Segala hal tidak enak di Fakultas Ilmu Budaya ini seperti
rumitnya proses peminjaman tempat dan alat, dan lain-lain. Disamping itu, lebih
banyak hal-hal menyenangkan yang kami alami bersama di Fakultas ini seperti
berorganisasi dalam suatu kepanitiaan, rapat hingga malam hari di Fakultas Ilmu
Budaya, makan bersama-sama hingga tidur besama-sama di Gor Pertamina karena
menjaga panggung dan sound system untuk acara Student Day pun kami telah rasakan bersama-sama.
Hal-hal yang berbau soft skill seperti manajemen waktu, public
speaking, kemampuan
berkomunikasi, dan lain-lain pun saya dapatkan selama berorganisasi dan berada
di Fakultas ini. Fakultas ini memang tidak boleh diremehkan, saya merasakan
banyak hal luar biasa di dalamnya yang akan sangat menunjang masa depan saya
nanti.
Setelah
satu setengah tahun berada di Fakultas ini, pandangan saya pun secara total
berubah. Disaat ditanya orang saya kuliah dimana, dengan bangga saya
mengatakan, Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Saya
dapat belajar akademis dan organisasi disini, di Fakultas Ilmu Budaya. Inilah
yang saya rasakan, dapat merasakan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya dan semakin
lama semakin banyak orang yang mengenal kampus saya, bukan terkenal sebagai
Fakultas LBB tapi sebagai Fakultas yang berisi orang-orang hebat di dalamnya.
Tidak
ada yang meremehkan kampus ini lagi begitu melihat orang- orang hebat di
dalamnya. Banyak yang mulai memuji Fakultas ini atas prestasi – prestasi hebat
yang berhasil didapatkan, seperti juara 3 lomba debat se-Jatim mengenai
Tipikor, dan juga juara- juara lainnya saat mengikuti Olimpiade Brawijaya.Mulai
banyak pihak yang memberi selamat pada Fakultas kami. Biar kata bangunan kami
masih seperti LBB, tapi kami berhasil membuktikan bahwa kualitas kami jauh dari
yang orang-orang bayangkan.
Akan tetapi, sejauh ini banyak komentar – komentar miring
mengenai Fakultas ini. Mulai tentang banyaknya mahasiswa akan tetapi tidak
didukung oleh bangunan dan fasilitas yang memadai. Pembangunan gedung yang
telah menjadi rencana sejak l`ma menjadi harapan baru kami. Karena kembali
lagi, Fakultas kami adalah Fakultas yang paling jelek dibandingkan dengan
Fakultas lainnya yang memiliki gedung yang menjulang tinggi dan megah. Fakultas
kami hanyalah Fakultas kecil yang tidak terlalu menjulang tinggi meskipun
Fakultas baru dan tidak seperti LBB lagi. Akan tetapi, tidak ada rasa minder
sedikitpun yang saya rasakan ketika melihat kampus saya dibandingkan dengan
kampus lainnya. Mungkin memang masih banyak yang meremehkan kualitas Fakultas
Ilmu Budaya tetapi tidak sedikit juga yang mulai mengakui kualitas kampus ini
serta banyaknya potensi dari mahasiswanya. Pasti akan sangat membanggakan
apabila pembangunan ini dapat dengan segera cepat untuk diselesaikan. Dan kami
berharap pembangunan tidak akan berhenti hinnga selesai.Kelas-kelas yang
meskipun jelek tetapi membuat kami nyaman karena teman-teman yang luar biasa
pasti dapat lebih dikembangkan lagi untuk kedepannya. Perjuangan bersama-sama
di Fakultas Ilmu Budaya akan terus diingat hingga tua dan susah untuk dilupakan.
Jadi, apa saja yang saya rasakan di FIB? Susah untuk
merangkainya dengan kata-kata yang pas meskipun saya telah menghabiskan banyak
kata- kata ini. Yang saya rasakan jauh lebih indah dari apa yang tertulis
disini. Mulai dari rasa bangga menjadi salah satu mahasiswa disini, merasa kangen
jika sudah lama libur saat liburan semester, sedih jika tidak menemukan
teman-teman di kampus, berorganisasi yang menyenangkan, dan rasa cinta yang
tinggi terhadap Fakultas Ilmu Budaya. Setiap detik ingatan yang saya habiskan bersama
teman-teman disini akan terekam dengan baik di otak saya yang suatu waktu bisa
diputar sesukanya. Seseorang harus mengabadikan kisah klasik luar biasa ini
dalam sebuah buku supaya tetap terdengar
sampai kapanpun. Saya cinta Fakultas Ilmu Budaya, salam budaya!










